Ambivalensi Sikap
ambivalence of an attitude
Ringkasan Singkat
Sejauh mana respons evaluatif yang terkait dengan suatu sikap tidak konsisten satu sama lain, melibatkan elemen positif dan negatif sekaligus.
Ambivalensi Sikap merujuk pada kondisi di mana evaluasi seseorang terhadap suatu objek sikap (seperti isu sosial, produk, atau orang) mengandung elemen positif dan negatif secara bersamaan. Jika semua respons terhadap sesuatu adalah seragam positif atau seragam negatif, maka ambivalensi dianggap rendah. Namun, jika seseorang memiliki keyakinan atau perasaan yang kuat namun bertentangan (misalnya, menyukai rasa makanan tertentu tetapi merasa bersalah saat memakannya), maka ambivalensi sikapnya tinggi.
Konsep ini sangat penting dalam psikologi sosial karena sikap yang ambivalen cenderung kurang stabil, lebih mudah berubah jika dipengaruhi, dan kurang mampu memprediksi perilaku nyata dibandingkan dengan sikap yang jelas dan searah. Ambivalensi dapat bersifat afektif (perasaan yang bertentangan), kognitif (keyakinan yang bertentangan), atau kombinasi keduanya. Memahami ambivalensi membantu para peneliti memahami mengapa orang seringkali tidak bertindak sesuai dengan sikap yang mereka nyatakan secara lisan.
Referensi Yang Bisa Anda Gunakan
- Eagly, A. H., & Chaiken, S. (1993). The Psychology of Attitudes.
- Maio, G. R., & Haddock, G. (2015). The Psychology of Attitudes and Attitude Change.
Peringatan Sitasi Akademik
Halaman ini disusun murni sebagai alat bantu pemahaman awal. Dilarang keras mengutip halaman ini sebagai sitasi utama dalam karya ilmiah atau tugas akhir. Silakan gunakan literatur primer yang tercantum pada daftar pustaka.